Melukis

Melukis
Perjalanan Spritual Untuk Negri

Sabtu, 24 Desember 2011

Model Pembelajaran Kooperatif


Model Pembelajaran Kooperatif
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.
B. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk menambah wawasan para pembaca, khususnya para mahasiswa jurusan matematika, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Lampung agar nantinya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai
dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.

Bab II
Model Pembelajaran Kooperatif

A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat
penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.
Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.
B. Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nur (2000), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1.Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
2.Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
3.kelompok mempunyai tujuan yang sama.

4.Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
6.Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7.Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain.
C. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat 6(enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif.
1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
2. Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa.
3.Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menginformasikan pengelompokan siswa.
4.Membimbing kelompok belajar.
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
5. Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
6.Memberikan penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.




Bab III
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika.
Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.
B. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Model STAD.
1.Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok
Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 - 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :
a).Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.
b). Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.
2. Penyajian Materi Pelajaran
a. Pendahuluan
Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya
b. Pengembangan
Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.
c. Praktek terkendali
Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.
3.Kegiatan kelompok
Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
4.Evaluasi
Dilakukan selama 45 - 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.
5. Penghargaan kelompok
Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super.
6.Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok
Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain.
C. Materi Matematika yang Relevan dengan STAD.
Materi-materi matematika yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggidan juga hapalan, misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan jam, dll. Dengan penyajian materi yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
D. Keunggulan Model Pembelajaran Tipe STAD
Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok ter tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
BAB IV
Simpulan dan Saran
A. Simpulan
1. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda
2. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
3. Pada intinya konsep dari model pembelajaran tipe STAD adalah Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut
Saran
1.Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
2.Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.
Sri Wardhani. (2006). Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.
Tim PPPG Matematika. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam
Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika.
Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.

Jumat, 09 Desember 2011

PERTEMUAN KE-ENAM (6) DAN KE-TUJUH (7)

(1). PENILAIAN FORMATIF

Penilaian Formatif merupakan salah satu paradigma dari beberapa jenis evaluasi yang fungsinya untuk memperbaiki peroses belajar mengajar, maka sesuai dengan fungsi dan tujuan penelitian di atas, penelitian formatipf ini dilakukan untuk menilai hasil belajar jangka pendek dari suatu peroses pembelajaran pada akhir unit pelajaran yang singkat seperti satuan pelajaran sebab perbaikan atas peroses pembelajaran itu hanya mungkin jika dilakukan secara sistematis dan bertahap.

Aspek, tingkat laku yang dinilai cenderung terbatas pada segi kognitif (pengetahuan) dan segi psikomotor (keterampilan). Untuk menilai segi afektif (sikap dan nilai), maka penggunan nilai formatif tidak tepat. Sebab untuk menilai perkembangan dalam segi afektif ini diperlukan periode pendidikan yang cukup panjang.

Format permasalahan yang akan dijadikan soal pada penilaian formatip harus disusun sedemikian rupa, sehingga benar-benar mengukur tujuan pembelajaran khusus yang hendak dicapai. Oleh oleh karena itu soal tes harus dibuat secara langsung dengan menjabarkan tujuan pembelajaran khusus ke dalam bentuk pertanyaan.

Pada penilaian formatif ini masalah tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap-tiap soal tes tidak begitu penting, sedang sasaran penilaian itu adalah kecakapan nyata setiap siswa. Oleh karenaitu pendekatan dalam penilaian formatif adalah evaluasi yang bersumber pada kriteria mutlak.

Ada beberapa cara pengolahan hasil evaluasi pada penilaian formatif ini, yaitu; menghitung angka persentase siswa yang gagal dalam setiap soal, menghitung persentase penguasaan kelas atau bahan yang telah disajikan, dan menghitung persentase jawaban yang benar yang dicapai setiap siswa dalam tes secara keseluruhan.

 (2). PENILAIAN SUMATIF
Yang dimaksud dengan penilaian sumatif adalah jenis penilaian yang berfungsi untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar siswa.

Penilaian sumatif dilakukan untuk menilai hasil belajar jangka panjang dari suatu proses belajar mengajar pada akhir unit pendidikan yang luas seperti pada akhir program pengajaran.
Fungsi tes sumatif tidak lagi untuk memperbaiki proses pembelajaran setiap siswa. Sebab pada akhir program pengajaran, guru telah berkali-kali melakukan evaluasi formatif pada akhir satusan pengajaran. Oleh karena itu aspek tingkah laku yang dinilai harus meliputi segi kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan) dan afektif (sikap nilai).
Penilaian sumatif dilakukan pada akhir program pengajaran ini berarti, bahan pengajaran yang menjadi sasaran evaluasi cukup luas dan baik. Oleh sebab itu, penyusunan soal-soalnya harus didasarkan atas tujuan-tujuan pembelajaran umum yang ada di dalam program pengajaran. Sehubungan dengan itu soal-soalnya harus representatif atau mewakili setiap tujuan-tujuan pembelajaran umum yang ada di dalam program mengajar tersebut.
Penilaian sumatif bertujuan menentukan angka kemajuan belajar siswa untuk itu tingkat kesukaran soal harus diperhatikan. Perbandingan jumlah yang muudah, sedang dan sukar sebaiknya 3:5:2. Perbandingan tersebut tidak harus mutlak demikian. Dalam masalah tingkat kesukaran soal yang selalu harus diperhatikan ialah, jumlah soal-soal yang sedang harus lebih banyak dari pada jumlah soal-soal yang mudah dan sukar.
Pada penilain sumatif ini perlu pula diperhatikan mengenai daya pembedaan dari setiap bukti soal. Artinya setiap bukti soal tes itu harus mempunyai daya untuk membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang kurang atau tidak pandai. Tingkat kesukaran dan daya pembedaan suatu soal  itu hanya dapat diketahui melalui analisis butir soal setelah tes itu diuji cobakan. Pada penilaian sumatif kedua pendekatan dalam penilaian dapat digunakan (penilaian yang bersumber padaa kriteria mutlak dan penilaian yang bersumber pada norma relatif kelompok ) dengan menggunakan beberapa perencanaan diantaranya :(a). Pengolahan hasil penilaian berdasarkan ukuran muutlak (PAP). PAP pada dasarnya berarti penilaian yang membandingkan hasil belajar siswa terhadap suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian ini menunjukan bahwa sebelum usaha penilaian dilakukan terlebih dahulu harus ditetapkan patokan yang akan dipakai untuk membandingkan angka-angka hasil pengukuran agar hasil itu mempunyai arti tertentu. (b). Pengolahan hasil penilaian berdasarkan norma relatif (PAN). (c). Penilaian penempatan (Placement)
Penilaian penempatan adalah  jenis penilaian yang berfungsi untuk menempatkan siswa dalam situasi pembelajaran yang sesuai dengan program pendidikan (sesuai dengan tingkat kemampuan atau ciri khas lainnya yang dimiliki siswa). (d)Penilaian diagnostik. Penilaian diagnostik adalah penilaian yang fungsinya untuk membantu memecahkan ksulitan-kesulitan dalam belajar yang dialami oleh siswa-siswa tertentu.

KONSEP PENGEMBANGAN BUTIR TEST ACUAN PATOKAN



Konsep Paradigma pengembangan butir-butir tes berdasarkan acuan patokan digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan instruksional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan penampilan siswa dalam pengujian dengan patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Tes acuan patokan disebut juga tes acuan tujuan dalam pengukuran proses pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (learned-centered) adalah penilaian yang berpusat pada pebelajar (learner-centered assessment ). Definisi learner-centered assessment sejajar dengan definisi tradisional test acuan patokan, sebagai element inti dari pembelajaran yang didesain secara sistematis. Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk: (i). mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum; (ii). Men-checking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan; (iii). menjadi dokumen kemajuan belajar.
Dalam mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carrey (1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu: (1). Entry behavior test yang diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur keterampilan syarat atau keterampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior. (2)Pre-test yang dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang akan diajarkan. Tujuannya adalah untuk efisiensi. Jika semua keterampilan sudah dikuasai maka tidak perlu ada pembelajaran. Namun jika hanya sebagian materi yang sudah dikuasai maka data tes ini memungkinkan desainer untuk lebih efisien. Mungkin hanya review atau pengingat yang dibutuhkan. Bila program tersebut merupakan sesuatu yang baru, maka tes inipun dapat ditiadakan. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menentukan nilai akhir tetapi lebih mengenal profil anak didik berkenaan. Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest, desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.(3) Practice test yang diberikan selama siswa sedang dalam proses belajar (Uno, 2007: 28, tes tersebut tes sisipan). Tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan dan juga untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini memungkinkan pebelajar untuk menampilkan pengetahuan dan keterampilan baru dan untuk refleksi diri sampai level berapa keterampilan dan pengetahuan mereka. Tes ini berisi keterampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.(4) Post-test yang diparalel dengan pre-test. Sama dengan pre-test, post-test mengukur tujuan pembelajaran. Post-test harus menilai semua objektif dan terutama fokus pada objektif terakhir. Namun jika waktu tidak memungkinkan, maka hanya tujuan akhir dan keterampilan penting saja yang diujikan. Post-test mungkin digunakan untuk menilai performa pebelajar dan untuk memberi kredit karena telah menyelesaikan program. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa. Tes ini merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal. Dengan tes ini dapat diketahui bagian-bagian mana diantara pembelajaran yang belum dicapai. 

Ada empat kategori tes yang berkualitas, yaitu:
(1). Berpusat pada Tujuan (Goal-Centered Criteria), (2). Berpusat pada pebelajar (Learner-Centered Criteria) (3)Berpusat pada kontek (Context-Centered Criteria) (4). Berpusat pada penilaian (Assessment-Centered Criteria) (5). Setting Penguasaan Kriteria.
 
Terdapat beberapa saran yang dapat membantu anda dalam menentukan berapa banyak tes item pilihan yang diperlukan. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa.

Daftar Pustaka: Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasinya, Persada Pers, 2007
Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Kuantum Teaching, Jakarta
Rusman, Metode-metode Pembelajaran, rajawali pers, Jakarta.

Selasa, 06 Desember 2011

STRATEGI INSTRUKSIONAL


A.    STRATEGI INSTRUKSIONAL
Kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam banyak cara oleh para pengajar. Ada yang langsung memulai pengajaran, ada yang yang didahului dengan brain storming, ada pula yang dimulai dengan penjelasan terlebih dahulu, ada lagi yang mengulang penjelasan yang lalu baru menjelaskan materi baru, atau dengan berdiskusi, dan seterusnya. Setiap pengajar memiliki caranya tersendiri untuk menentukan urutan kegiatan instruksionalnya. Setiap cara tersebut dipilih atas dasar keyakinan akan keberhasilannya dalam mengajar. Pemilihan tersebut mungkin didasarkan atas intuisi, kepraktisan, atau mungkin pula atas dasar teori-teori tertentu agar pengajaran yang dilakukan di dalam kelas terstruktur dengan baik dan sesuai dengan kondisi kelasnya masing-masing.  Untuk itu diperlukan pemahaman strategi urutan kegiatan instruksional pada setiap mata pelajaran yang hendak diajarkan.

Dick dan Carey (1985) mengatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada siswa.
Ia menyebutkan ada lima komponen umum dari strategi instruksional, yaitu:
1.      Kegiatan prainstruksional
2.      Penyajian informasi
3.      Partisipasi siswa
4.      Tes
5.      Tindak lanjut
Kelima komponen tersebut bukanlah satu-satunya rumusan strategi instruksional. Gagne dan Briggs (1979) menyebutkan ada sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu:
1.      Memberi motivasi atau menarik perhatian
2.      Menjelaskan tujuan instruksional
3.      Mengingatkan kompetensi prasyarat
4.      Memberi stimulus (masalah, topik, konsep)
5.      Memberi petunjuk belajar
6.      Menimbulkan penampilan siswa
7.      Memberi umpan balik
8.      Menilai penampilan
9.      Menyimpulkan
Briggs dan Wager (1981) mengungkapkan bahwa tidak semua pelajaran memerlukan seluruh sembilan urutan kegiatan tersebut tergantung karakteristik siswa dan jenis perilaku yang ada dalam tujuan instruksionalnya. Mereka juga menjelaskan bahwa pengetahuan kita sebagai pengajar belum lengkap tentang urutan kegiatan instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuannya. Oleh karena itu para ahli sepakat bahwa strategi instruksional yang berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan instruksional dalam menyampaikan materi pelajaran hendaknya sistematis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Di dalamnya terkandung empat pengertian sebagai berikut:
1.      Urutan kegiatan instruksional, yaitu: urutan kegiatan pengajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa
2.      Metode instruksional, yaitu: cara pengajar mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa, agar terjadi proses belajar yang efektif dan efisien
3.      Media instruksional, yaitu: peralatan dan bahan instruksional yang digunakan pengajar dan siswa dalam kegiatan instruksional
4.      Waktu yang digunakan oleh pengajar dan siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan instruksional.
Dengan demikian, strategi instruksional merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses instruksional untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditentukan. Dengan kata lain strategi instruksional dapat pula disebut sebagai cara yang sistematis dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Artinya hal ini berkenaan dengan bagaimana menyampaikan isi pelajaran.
Dalam setiap pemilihan strategi instruksional para pengajar perlu mengajukan dua pertanyaan: pertama, seberapa jauh strategi yang disusun itu didukung dengan teori-teori psikologi dan teori instruksional yang ada? Kedua, seberapa jauh strategi yang disusun itu efektif dalam membuat siswa mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan? Karena strategi instruksional ini disusun untuk mencapai tujuan instruksional tertentu, maka ia harus disusun sesuai dengan TIK (Tujuan Instruksioanl Khusus). Pada umumnya model desain instruksional seperti Instructional Development Institute, System Approach for Education, The Project Minerva, Banathy, dan Teaching Research menggunakan langkah yang sama. Mereka mengembangkan strategi instruksional langsung dari TIK. Sedangkan pada model Dick dan Carey, walaupun tahap srategi instruksional digambarkan dalam bagan di belakang pengembangan tes, di dalam penjelasannya dinyatakan bahwa ia dikembangkan langsung dari TIK juga.



B.     KOMPONEN UTAMA DALAM PENYUSUNAN STRATEGI INSTRUKSIONAL
Pada dasarnya dalam strategi instruksional terbagi atas empat komponen utama, yaitu: urutan kegiatan instruksional, metode, media, dan waktu.
Komponen utama pertama, yaitu: urutan kegiatan instruksional, mengandung beberapa komponen: pendahuluan, penyajian, dan penutup.
Komponen pendahuluan terdiri dari tiga langkah, sebagai berikut:
1.      Penjelasan singkat tentang isi pelajaran
2.      Penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman siswa, dan
3.      Penjelasan tentang tujuan instruksional

Komponen penyajian terdiri atas tiga langkah, yaitu:
1.      Uraian
2.      Contoh
3.      Latihan
Komponen penutup terdiri dari dua langkah, yaitu:
1.      Tes formatif dan umpan balik
2.      Tindak lanjut
      Komponen utama kedua, yaitu: metode instuksional, terdiri atas berbagai macam metode yang digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan instruksional. Dalam setiap langkah tersebut mungkin menggunakan satu atau beberapa metode atau mungkin pula beberapa langkah menggunakan metode yang sama.
      Komponen utama ketiga, yaitu media instruksional, berupa media cetak atau media audiovisual yang digunakan pada setiap langkah pada urutan kegiatan instruksional. Seperti halnya penggunaan metode instruksional, mungkin beberapa media digunakan pada suatu langkah atau satu media digunakan pada beberapa langkah.
      Komponen utama keempat, yaitu waktu, berapa lama waktu yang digunakan oleh pengajar dan siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan instruksional.
Berikut disampaikan uraian tentang pengertian setiap komponen dan setiap langkah yang terdapat dalam strategi instruksional:
a.      Komponen Utama Pertama: Urutan Kegiatan Instruksional
Urutan kegiatan instruksional terdiri atas komponen pendahuluan, penyajian, dan penutup. Setiap subkomponen tersebut terdiri atas beberapa langkah.
1.      Subkomponen Pendahuluan
Dick danCarey (1985) menyebutnya preinstructional activities dan Universitas Terbuka menggunakan istilah pengantar atau kadang-kadang disebut pendahuluan. Kegiatan awal tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan mental siswa agar siap dalam mempelajari pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Seorang pengajar yang baik tidak akan mendadak mengajarkan topik pada hari itu. Pengajar yang baik harus bersedia menggunakan waktunya sejenak untuk mengikuti siswanya, baru kemudian pelan-pelan masuk ke dalam topik yang akan dibahas. Selain itu, pengajar yang baik akan meningkatkan motivasi siswa untuk mempelajari pelajaran baru sebelum ia mengajarkannya dengan cara menjelaskan apa manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa di kemudian hari.
Fungsi komponen pendahuluan akan tercermin dalam ketiga langkah yang akan dijelaskan di bawah ini:
      a.      Penjelasan singkat tentang isi pelajaran
Pada permulaan pelajaran, siswa pada umumnya ingin segera mengetahui apa yang akan dipelajari pada pertemuan saat itu. Untuk itu diperlukan penjelasan singkat, agar pada permulaan pelajaran siswa telah mendapatkan gambaran secara global tentang isi pelajaran yang akan dipelajari.

      b.      Penjelasan relevansi isi pelajaran baru
Siswa akan lebih cepat mempelajari sesuatu yang baru jika sesuatu yang akan dipelajari itu dikaitkan dengan sesuatu yang telah diketahuinya atau dengan sesuatu yang biasa dilakukannya sehari-hari. Oleh karena itu siswa perlu diberi penjelasan mengenai relevansi kegiatan isi pelajaran yang akan dipelajari dengan pengetahuan, keterampilan, dengan sikap yang telah dikuasai, atau dengan pengalaman dan pekerjaannya sehari-hari.
      c.       Penjelasan tentang tujuan instruksional
Pada umumnya, siswa akan belajar dengan cepat apabila mendapatkan tanda-tanda yang mengarahkan kepada proses belajarnya. Tanda-tanda tersebut dapat berupa penjelasan tentang tujuan instruksional. Dengan tanda tersebut, siswa diharapkan mampu mengorganisasikan atau mengatur sendiri proses belajarnya dengan menggunakan sumber-sumber yang ada di lingkungannya. Selain itu pengetahuan tentang tujuan instruksional tersebut akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu setiap pengajar sebaiknya perlu menjelaskan tujuan instruksional kepada siswanya sebelum memulai kegiatan instruksional sesungguhnya.
Dengan selesainya ketiga kegiatan pendahuluan tersebut, siswa telah mempunyai gambaran global tentang isi pelajaran yang akan dipelajarinya, kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, meningkatkan motivasi belajar, dan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajar sebaik-baiknya. Waktu yang dibutuhkan untuk ketiga kegiatan dalam komponen pendahuluan tersebut hanya 3-5 menit dari 49-90 menit waktu pelajaran. Artinya, cukup besar untuk meningkatkan efektifitas dan efsiensi belajar siswa.
2. Subkomponen Penyajian
Penyajian adalah subkomponen yang sering ditafsirkan secara awam sebagai pengajaran karena memang merupakan inti kegiatan pengajaran. Di dalamnya terkandung tiga pengertian pokok, yaitu: urain, contoh, dan latihan.
a.      Uraian
Adalah penjelasan tentang materi pelajaran atau konsep, prinsip, dan prosedur yang akan dipelajari siswa.

b.      Contoh
Adalah benda atau kegiatan yang terdapat dalam kehidupan siswa sebagai wujud dari materi pelajaran yang sedang diuraikan. Contoh meliputi benda atau kegiatan yang bersifat positif atau negatif, baik yang konsisten ataupun yang bertentangan dengan uraian. Uraian dan contoh merupakan tanda-tanda dan kondisi belajar yang merangsang siswa untuk memberikan respon terhadap isi pelajaran yang sedang dipelajari. Semakin relevan uraian dan contoh terhadap kehisupan siswa, maka semakin jelas bagi siswa. Kegiatan uraian dan contoh dapat berbentuk uraian lisan, tulisan atau buku, media ausiovisual, poster, benda sebenarnya, dan sebagainya. Pada saat memebrikan uraian pengajar dapat menggunakan berbagai metode seperti ceramah, diskusi, dan sumbang saran.
c.       Latihan
Adalah kegiatan siswa dalam rangka menerapkan konsep, prinsip, atau prosedur yang sedang dipelajarinya ke dalam praktik yang relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Dengan latihan, berarti siswa belajar dengan aktif, tidak hanya duduk membaca dan mendengarkan. Belajar aktif akan mempercepat penguasaan siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Latihan tersebut diikuti dengan bimbingan dan koreksi serta petunjuk cara memperbaikinya dari pengajar. Latihan ini diulang seperlunya sampai siswa dapat menyelesaikannya dengan benar tanpa bantuan pengajar.

Subkomponen Penutup
Subkomponen terakhir ini terdiri dari dua langkah, yaitu: pertama tes formatif dan umpan balik, kedua tindak lanjut.
a.      Tes Formatif
Adalah satu set pertanyaan untuk dijawab atau seperangkat tugas yang dilakukan untuk mengukur kemajuan belajar siswa setelah menyelesaikan suatu tahap pelajaran. Selain itu tes merupakan bagian dari kegiatan belajar siswa secara aktif dan secara efektif membuat siswa menguasai pelajaran. Hasil tes formatif harus diberitahukan kepada siswa sebagai umpan balik, agar proses belajar menjadi efektif, efisien, dan menyenangkan. Umpan balik merupakan salahsatu kegiatan instruksional yang sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.
b.      Tindak lanjut
Adalah kegiatan yang dilakukan siswa setelah melakukan tes formatif dan umpan balik. Siswa yang mendapatkan hasil tes dengan nilai baik, dapat melanjutkan ke bagian pelajaran selanjutnya atau mempelajari bahan tambahan untuk memperdalam pengetahuan. Sedangkan siswa dengan nilai kurang baik harus mengulang isi pelajaran tersebut dengan menggunakan bahan instruksional yang sama atau berbeda. Petunjuk dari pengajar tentang apa yang harus dilakukan siswa  merupakan salahsatu bentuk pemberian tanda dan bantuan kepada siswa untuk memperlancar kegiatan belajar selanjutnya.
Komponen Utama Kedua: Metode Instruksional
Tidak setiap metode instruksional sesuai untuk digunakan dalam mencapai tujuan instruksional tertentu. Karena itu pengajar harus memilih metode yang sesuai untuk setiap TIK yang ingin dicapai. Metode instruksional berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan) isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Berikut beberapa metode yang biasa dilakukan pengajar dalam kegiatan instruksional:
1.      Metode Ceramah (Lecture)
Metode tersebut berbentuk penjelasan pengajar kepada siswa dan biasanya diikuti dengan Tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas. Yang perlu dipersiapkan pengajar adalah daftar topik yang akan diuraikan dan media visual yang sederhana. Metode ini tepat untuk diterapkan bila: kegiatan instruksional baru dimulai, waktu terbatas, jumlah pengajar sedikit. Metode tersebut memilki keterbatasan, yaitu: partisipasi siswa rendah, kemajuan siswa sulit dipantau, perhatian dan minat siswa tidak dapat dipantau.
2.      Metode Demonstrasi
Yaitu mengambil contoh pelaksanaan suatu keterampilan atau proses kegiatan. Namun dibutuhkan keahlian dalam mendemontrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan sesungguhnya. Setelah demontrasi, siswa diberi kesempatan latihan keterampilan yang sama dibawah pengawasan pengajar. Metode ini dapat digunakan bila: kegiatan instruksional bersifat formal, magang atau latihan kerja. Materi pelajaran berbentuk keterampilan psikomotorik, petunjuk sederhana, bahasa asing, dan prosedur pelaksanaan. Pengajar bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, dan menunjukkan suatu standar penampilan.
3.      Metode Penampilan
Yaitu pelaksanaan praktik siswa di bawah pengawasan pengajar. Praktik tersebut dilaksanakan atas dasar penjelasan atau demontrasi yang telah diterima atau diamati siswa. Untuk menggunakan metode ini, pengajar harus: memberikan penjelasan cukup kepada siswa selama praktik berlangsung, melakukan tindakan pengamanan sebelum kegiatan praktik. Metode penampilan tepat digunakan bila: pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan, kegiatan instruksional bersifat formal, latihan kerja, atau magang, siswa mendapatkan kemungkinan dapat menerapkannya dalam kehiudpan sehari-hari, kondisi praktik sama dengan kondisi kerja, disediakannya supervisi dan bimbingan kepada siswa secara dekat selama praktik. Adapun kesulitan penggunaan metode ini adalah: membutuhkan waktu panjang, membututhkan fasilitas lengkap dan mahal, dan membutuhkan pengajar yang lebih banyak.
4.      Metode Diskusi
Yaitu interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan pengajar untuk menganalisis, menggali, atau memperdebatkan topik tertentu. Untuk menggunakan metode ini pengajar harus: menyediakan bahan, topik atau masalah yang akan didiskusikan, menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas, menugaskan siswa untuk menjelaskan, menganalisis, dan meringkas, membimbing diskusi, sabar terhadap kelompok yang lambat, awas terhadap kelompok yang kebingungan. Metode tersebut tepat digunakan untuk: tahap menengah atau tahap akhir proses belajar, pelajaran formal atau magang, perluasan pengetahuan siswa, belajar mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta mengambil keputusan, membiasakan siswa berhadapan dengan berbagai pendekatan, interpretasi, dan kepribadian, dan menghadapi masalah secara berkelompok. Namun metode ini memilki keterbatasan, yaitu: menyita waktu lama, mensyaratkan siswa mempunyai latar belakang yang cukup dalam topik atau masalah yang didiskusikan, tidak tepat digunakan pada tahap awal.


5.      Metode Studi mandiri 
Yaitu berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh siswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus. Metode ini dapat berupa: memberi daftar bacaan sesuai kebutuhan siswa, menjelaskan hasil yang diharapkan, mempersiapkan tes untuk menilai keberhasilan siswa. Metode ini diterapkan: pada tahap akhir proses belajar, dapat digunakan pada semua mata pelajaran, menunjang metode instruksional lainnya, meningkatkan kemampuan kerja siswa, mempersiapkan kenaikan tingkat siswa, memberi kesempatan kepada siswa untuk memperdalam minatnya tanpa dicampuri siswa lain. Namun metode ini hanya dapat digunakan bila siswa menentukan sendiri tujuannya dan dapat memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
6.      Metode Kegiatan Instruksional terprogram
Yaitu metode yang menggunakan bahan instruksional secara khusus. Isis pelajran didalamnya dipecah menjadi langkah-langkah kecil, diurut secara cermat, diarahkan untuk mengurangi kesalahan, dan diikuti umpan balik dengan segera. Siswa mendapat kebebasan untuk belajar menurut kecepatan masing-masing. Untuk menggunakan metode ini perlu diperhatikan hal-hal berikut: siswa harus benar-benar memiliki seluruh bahan, alat-alat dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran tersebut, siswa harus tahu bahwa bahan itu bukan tes, respon yang dibuat siswa untuk membantunya belajar bukan sebagai dasar penilaian dalam mata pelajaran tersebut, tersedianya sumber yang dapat membantu siswa bila mengalami kesulitan, siswa harus dicek kemampuannya secara periodik untuk membuatnya benar-benar belajar. Metode ini diterapkan untuk: semua tahap belajar, pelajaran normal, belajar jarak jauh, dan magang, mengatasi kesulitan perbedaan individual, dan mempermudah siswa belajar dalam waktu yang diinginkan. Keterbatasannya: bahan belajar yang dikembangkan  dengan baik membuat siswa melalui urutan kegiatan belajar yang sama, sehingga metode ini dianggap tidak fleksibel, biaya pengembangan tinggi, siswa kurang mendapat interaksi sosial.
7.      Metode Latihan dengan Teman
Yaitu memanfaatkan teman yang telah lulus atau mengerti tentang topik tersebut utnuk bertindak sebagai pelatih bagi siswa lain. Ia dapat memilih metode instruksional yang diinginkan untuk melatih temannya tersebut.jika temannya lulus, ia pun akan bertindak sebagai pelatih.  Hal-hal yang perlu diperhatikan: seorang siswa mula-mula memperhatikan siswa yang telah mencapai tingkat lanjut dalam melaksanakan semua tugas di bawah pengawasan pelatih, siswa kemudian dilatih dalam keterampilan melakukannya, setelah lulus tes ia menjadi pelatih untuk siswa berikutnya. Metode latihan ini dapat diterapkan pada: semua tahap yang membutuhkan latihan satu per satu, latihan kerja, latihan formal, dan magang. Kesulitan penggunaan metode ini adalah: terbatasnya siswa yang dapat dilatih dalam suatu periode tertentu, kegiatan latihan ini harus senantiasa dikontrol secara langsung untuk memelihara kualitas.
8.      Metode Simulasi
Menampilkan simbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan: pada tahap permulaan diperlukan tingkat di bawah realitas. Siswa diharapkan mengidentifikasi lokasi tujuan, sifat-sifat benda, tindakan yang sesuai dengan kondisi tertentu, dan sebagainya. Pada tahap pertengahan diperlukan tingkat realitas yang memadai. Siswa diharapkan dapat mempelajari sesuatu dalam kaitan dengan pengetahuan yang lebih luas dan memulai mengkoordinasikan keterampilan-keterampilan. Pada tahap akhir diperlukan tingkat realitas yang tinggi, dan siswa diharapkan dapat melakukan pekerjaan seperti seharusnya. Metode ini sesuai diterapkan untuk: semua tahap belajar, pendidikan formal dan magang, memberikan kejadian-kejadian analogis, memungkinkan praktik dan umpan balik dengan resiko kecil, diprogramkan sebagai alat pelajaran mandiri. Kelemahannya: biaya pengembangan tinggi dan butuh waktu lama, alat-alat yang mahal, resiko tinggi bagi siswa dan pengajar.
9.      Metode Sumbang Saran (Brainstorming)
Yaitu proses penampungan pendapat dari siswa tanpa evaluasi terhadap kualitas pendapat tersebut. Pengajar tidak boleh berorientasi pada hasil metode, tetapi pada prosesnya, yaitu mendorong keberanian siswa memunculkan pendapatnya tanpa takut disalahkan. Semua pendapat ditampung, tidak ada yang ditolak. Metode ini dapat digunakan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam mengajukan pendapatnya. Tetapi metode ini dapat menimbulkan frustasi di kalangan siswa karena mereka tidak menemukan consensus pada akhir proses tersebut. Metode ini dapat digunakan dalam mencari berbagai kemungkinan cara memecahkan masalah.


10.  Metode Studi Kasus
Berbentuk penjelasan tentang masalah, kejadian, atau situasi tertentu, kemudian siswa ditugaskan mencari alternatif pemecahannya. Metode ini digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mendapatkan persespsi baru dari suatu konsep dan masalah. Metode ini tepat digunakan untuk siswa yang memiliki pengetahuan cukup dalam masalah tersebut. Kesulitan penggunaan metode ini adalah: mendapatkan kasus yang telah ditulis dengan baik sebagai hasil penelitian di lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan siswa, mengembangkan kasus sangat mahal.
11.  Metode Computer Assisted Learning (CAL)
Yaitu kegiatan belajar yang sangat berstruktur dengan menggunakan komputer. Siswa diminta memcahkan masalah melalui komputer kemudian mendapatkan umpan balik atas jawabannya. CAL memberikan kesempatan bagi siswa untuk maju menurut kecepatan masing-masing. Metode ini dapat digunakan pada setiap tingkatan pengetahuan. Kesulitan penggunaan metode ini: pengembangan program CAL membutuhkan biaya tinggi dan waktu lama, pengadaan dan pemeliharaan alat mahal.
12.  Metode Insiden
Merupakan variasi dari metode studi kasus. Siswa diberi data dasar yang tidak lengkap tentang suatu masalah dan ia harus mencari data tambahan untuk menyelesaikan tugasnya. Data tambahan tersebut dapat diminta kepada pengajar. Kelebihannya: siswa belajar menyusun dan menyelami masalah lebih dahulu sebelum belajar berpikir kritis untuk mencari pemecahannya.
13.  Metode Praktikum
Metode ini berbentuk pemberian tugas kepada siswa untuk menyelesaikan suatu proyek dengan berpraktik dan menggunakan instrument tertentu.
14.  Metode Proyek
Metode berbentuk pemberian tugas kepada semua siswa untuk dikerjakan secara individual. Laporan penyelesaian dituangkan dalam bentuk makalah.
15.  Metode Bermain Peran
Metode yang berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau situasi dengan melakukan peran terbuka. Metode ini digunakan untuk memberikan kesempatan siswa mempraktikkan isi pelajaran dan menemukan masalah yang akan dihadapi dalam pelaksanaan sesungguhnya. Metode ini memerlukan observasi yang cermat dari pengajar untuk menunjukkan kekurangan setiap peran yang dilakukan siswa.
16.  Metode Seminar
Berbentuk kegiatan belajar bagi sekelompok siswa untuk membahas topik atau masalah tertentu. Setiap anggota seminar diharapkan aktif berpartisipasi. Penyelesaian tugas pembahasan topik tersebut menjadi tanggung jawab anggota seminar, pengajar bertindak sebagai nara sumber.


17.  Metode Simposium
Mengetengahkan suatu seri ceramah mengenai berbagai kelompok topik dalam bidan gtertentu. Ceramah diberikan oleh beberapa ahli.
18.  Metode Tutorial
Berbentuk pemberian bahan ajar yang telah dikembangkan untuk dipelajari siswa secara mandiri dan kesempatan berkonsultasi secara periodik tentang kemajuan dan masalah yang dialaminya.
19.  Metode Deduktif
Dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemusian disusul dengan penerapannya pada situasi tertentu. Metode ini bergerak dari yang bersifat umum ke khusus. Metode ini tepat digunakan bila: siswa belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajarinya, isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berpikir kritis, pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yang baik, dan waktu yang tersedia singkat.
20.  Metode Induktif
Siswa dibimbing untuk mensintesis, menemukan, dan menyimpulkan prinsip dasar dari kasus yang diberikan yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip dari suatu pelajaran. Metode ini disebut metode discovery atau Socratic. Metode ini digunakan bila: siswa telah mengenal atau berpengalaman terhadap pelajaran tersebut, yang akan diajarkan keterampilan komunikasi, sikap, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan, pengajar adalah pendengar yang baik, fleksibel, sabar, dan waktu yang tersedia cukup panjang.